Langsung ke konten utama

9 Ketrampilan yang Wajib Dikuasai Konselor


Menjadi konselor tidaklah mudah.  Konselor yang baik dituntut untuk mampu mendampingi klien atau konseli menemukan penyelesaian masalah yang dihadapinya.  Tugas utama konselor bukanlah untuk mencari solusi, karena sejatinya klien lah yang tahu tentang dirinya dan solusi yang mungkin bisa diambil sebagai penyelasian masalah.  Jika kita masih menganggap seorang klien mendatangi konselor atau psikolog untuk mencari solusi, itu tak selamanya benar.  Sering klien hanya ingin didengar, diperhatikan dan bertukar cerita dengan orang lain.  Sebagai konselor ataupun calon konselor yang baik, setidaknya kita menguasai 9 ketrampilan agar mampu mengerti, memahami dan menjadi teman terbaik klien.  Ketrampilan tersebut diantaranya,
1. Attending Behavior
Di sini konselor dituntun harus hadir sepenuh hati, tanpa paksaan ataupun tekanan dari pihak manapun.   Ketika klien diperhatikan, didengarkan dengan sepenuh hati oleh lawan bicaranya, yaitu konselor maka klien akan merasa dihargai dan ditemani sehingga mampu menceritakan ataupun menggali atas masalah yang sedang dihadapinya.  Ketika klien mampu menggali masalahnya dengan ditemani konselor, harapannya akan menemukan solusi yang dapat ia ambil.   Konselor  diharapkan mampu melihat dan membimbing jalan mana yang bisa dilalui klien. Untuk menunjukan attending behavior yang baik, konselor dapat menunjukan dengan kontak mata, mengikuti topik si klien (verbal tracking) serta bahasa tubuh yang baik, sehingga klien merasa aman dan nyaman.
2. Observation skills
Seringkali sebagai manusia kita tidak mengenali permasalahan atau pun solusi yang dapat kita ambil untuk masalahnya, padahal itu begitu dekat dengan dirinya.  Konselor yang baik harus memiliki kemampuan pengamatan yang baik pula.  Baik mengamatai bahasa tubuh, ucapan maupun perilaku dari si klien.  Sehingga untuk mendampingi klien untuk pemecahan masalahnya ia dapat memberikan respon yang tepat.  Disaat klien merasa sedih misalnya, kita dapat merendahkan volume suara kita agar klien tidak merasa semakin tertekan.  Kemampuan mengamati atau observation skills sangat berguna bagi konselor ataupun peneliti.
3. Open and Closing Question
Pertanyaan yang bversifat tertutup biasanya akan membosankan, dan tidak merangsang seseorang untuk menyelami lebih jauh atas memorinya.  Pertanyaan yang membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ seperti kurang efektif untuk menggali data.  Sebagai konselor, Karena kita membutuhkan banyak informasi dari klien alangkah baiknya kita menggunakan pertanyaan terbuka, sehingga klien akan merasa mampu mengeluarkan apa yang menjadi beban dalam pikiran atau pun perasaannya.  Pertanyaan terbuka bisa diawali dengan, ‘bagaiman’, ‘mengapa’ intinya pertanyaan itu akan merangsang klien mencoba berpikir atau merangsang kemampuan kognitif klien. 
4. Encouraging
Dengan memiliki kemampuan menyusun dan memberikan pertanyaan terbuka, kita dapat memberikan dorongan
atau pancingan untuk penyelesaian masala si klien.  Seringkali solusi terhadap masalah yang ada pada klien sudah diketahui, namun klien butuh penegasan untuk membuat dirinya percaya ia mampu menyelesaikan masalahnya.
5. Pharaprasing
Paraphrasing adalah menyusun atau menyimpulkan cerita klien menurut bahasa konselor sendiri.  Ketika konselor mampu membuat paraphrasing yang tepat, itu akan membuat klien merasa dihargai dan diikuit dengan seksama.
6. Summarizing
Hampir mirip dengan paraphrasing, summarizing berarti membuat rangkuman atas apa yang diceritakan si klien kemudian mengkonfirmasi apakah pemahaman konselor sudah sesuai dengan yang diceritakan atau dikonsultasikan si klien.
7. Reflection of feeling
Konselor yang mampu berempati selayaknya mengalami atau dapat mengerti perasaan si klien membuat klien merasa ditemani dan tidak sendiri.  Klien akan merasa bahwa masih ada oran yang mampu memahami perasaannya, sehingga akan lebih mudah untuk lanjut ke sesi berikutnya.
8. Focusing
Seseorang yang mendengarkan sambil main telepon genggamnya akan terkesan tidak memerhatikan lawan bicaranya.  Fokus terhadap apa yang sedang dibicarakan lawan bicara adalah hal penting yang dibutuhkan konselor.   Dengan fokus seorang konselor tidak akan kehilangan setiap detil yang diceritakan klien.
9. Confrontation
Konfrontasi disini dibutuhkan untuk menyadarkan klien ketika klien tidak mampu memahami peramasalahnya sendiri.  Konfrontasi yang baik bersifat suportif dan tidak menghakimi bahkan menyerang klien, sehingga klien tetap merasa nyaman dan mampu berpikir jernih.
Itulah sembilan skill yang wajib dikembangkan dan terus dilatih oleh seorang konselor.  Ketrampilan itu seperti pisau ketika makin sering diasah makin tajam.  Dengan jam terbang yang semakin sering, maka konselor akan mampu memahami serta mumpuni dalam menghadapi klien atau membantu klien untuk menyelesaikan masalahnya.  Cara praktis untuk mempraktekan ketrampilan diatas adalah mencoba melakukannya ketika teman, sahabat, pacar, bahkan orang tua ketika mereka bercerita ataupun berbicara. Itulah Sembilan ketrampilan yang wajib kita kembangkan, semoga bermanfaat.
Referensi: Ebook Allen E. Ivey, dkk. Intentional interviewing and Counseling. 8th Edition.Brooks/Cole Cengage Learning.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keajaiban itu Nyata, Katanya! Chapter III

Sesampainya dirumah Amar menyandarkan sepedanya. Kemudian merebahkan badan dengan segala kecemasan yang dia rasakan.   “Duh, apa aku keluar kerja aja ya?, kalo lingkungannya seperti ini mah cuma akan mendidik aku sebagai koruptor meskipun koruptor lokal, sepertinya aku nggak bakal kuat menahan godaan ini” pikiran Amar mulai kacau.   “Aaaarghhh, kenapa si Jono harus memberikan trik murahan itu, dan kenapa juga aku harus mengikutinya