Langsung ke konten utama

Keajaiban itu Nyata, Katanya! Chapter II



Pukul sepuluh warung soto telah siap untuk dibuka. Semua meja telah dilap, lantai telah dipel.  Ayam telah digoreng dan ditiriskan. Semua bahan telah siap dan lengkap. Dan tirai siap untuk dibuka. 
Baru beberapa menit dibuka pelanggan mulai berdatangan.  Bangku telah terisi. Dan mangkok meja telah siap untuk beradu dengan sendok dan garpu.  Menjelang jam sebelas warung telah dipenuhi pelanggan, semua bangku telah terisi. Dari anak-anak remaja, para Bapak-bapak dan perkumpulan Ibu-ibu yang sepertinya para
guru yang rapat di akhir pekan. Biasanya tidak seramai ini.  “Wajar saja ini adalah hari minggu” gumam Amar. Amar dan Dodo kewalahan untuk melayani para pelanggan. Tapi dengan berbagi tugas.  Amar menyiapkan minuman.  Dodo menyiapkan racikan sotonya. Akhirnya semua pelanggan telah menerima apa yang diinginkannya, dan mereka berdua bisa mengambil nafas lega.
Amar memperhatikan sepasang kekasih yang sedang menikmati soto.  Dan sang cewe menengok ke Amar. Dan memanggilnya dengan suara
yang pelan. “Mas, mas. Sini!” sambil menggerak-gerakan tangannya sebagai isyarat. Amar gugup. “Iya, ada apa mbak?” tanyanya sopan. “Kurang manis” komplen si cewe tersebut sambil tersenyum manis. “Itu ada kecap” jawab Amar. “Es jeruknya mas”. “Oh iya maaf mbak”. Amar hanya menyeringai. “saya tambahin gula ya” Amar mengambil minuman tersebut dan dibawa ke dapur.  “Astagfirullah” ucap Amar lirih dan sambil menggelengkan kepala merasa konyol.

Hari minggu yang melelahkan karena sibuk melayani pelanggan terasa cukup cepat untuk dilalui Amar.  Jam menunjukan pukul sepuluh  malam.  Artinya warung sudah saatnya tutup.  Dan juragan soto pun sudah datang dan memerintahkan Amar dan Dodo untuk menutup warung.  Semua pegawai soto di berbagai cabang akan melaporkan dan kumpul di warung soto yang dijaga Amar dan Dodo, karena itulah warung terdekat dengan rumah juragan.  Tempat yang cukup strategis.  Biasanya para pegawai tidak laporan di warung, langsung kerumah juragan.  Tapi ini peraturan baru mulai hari minggu ini laporan akan diadakan di warung cabang Mandiraja.
Setelah semua acara laporan telah beres dan upah telah diterima masing-masing pegawai.  Amar memutuskan untuk menginap di warung, karena merasa terlalu lelah dan sudah hampir pukul sebelas malam.  Dodo sebagai sahabat Amar pun tidak tega untuk membiarkan Amar menginap sendirian di warung.  Dan Jono si pegawai yang bertugas menjaga warung di cabang Klampok pun memutuskan untuk ikut menginap di warung yang dijaga Amar dan Dodo.
Mereka bertiga tidak membutuhkan waktu lama untuk saling akrab.  Dimulai dari perkenalan diri.  Cerita tentang asal-usul mengapa bisa sampai kerja di warung soto.  Dan sampai penjualan hari ini mereka pun bahas. “Eh, gimana penjualan kalian hari ini?” tanya Jono.  “Alhamdulillah ramai banget tadi Jon.” Sahut Dodo.  “Iya bikin pegel-pegel nih” imbuh Amar. “Sampai-sampai aku bikin kopi pake air dingin”. Dodo dan Jono kaget. “Haaa???” mereka kompak. “Kok kamu tadi tidak cerita ke aku Mar?” tambah Dodo. “Kan tahu sendiri tadi sibuknya seperti apa”, jawab Amar. “Heee,, bener juga sih”, Dodo merenges. “Gimana ceritanya kok kamu bisa bikin kopi pakai air dingin, komplen dong yang pesen?” Jono heran mulai mendekat tambah penasaran.  “Iya komplen lah, tapi komplennya pas udah kering tuh gelas, jadi nggak aku ganti yang baru, lagian mereka sepertinya terburu-buru jadi langsung cabut gitu aja deh” jelas Amar. “Terus-terus?”. Kemudian Amar menceritakan kejadian konyol tadi siang, begitu juga kejadian cewe yang komplen minuman es jeruknya kurang manis.
Jono bekerja di warung soto sudah dua tahun.  Cukup untuk bisa disebut “senior”.  “Eh, kamu kok betah banget kerja di sini, Jon? Kan gajinya cuma dua puluh lima ribu, emang cukup?” Dodo mengintergogasi. “Haha, kalian mau aku kasih tau triknya biar betah dan duitnya cukup?” goda Jono. “Maksudnya?” tanya Amar heran. “Aku mah kalo gaji dua puluh lima ribu perhari nggak cukup, apalagi aku perokok, sedangkan sama juragan tidak ada jatah rokok, jadi gini nih trik aku biar dapet duit sampingan.  Kalau warung sedang ramai, misalnya saja ada rombongan pesan tujuh belas mangkok soto kalian tulis empat belas atau lima belas mangkok saja, asalkan pakai daging ayamnya jangan banyak-banyak, soalnya juragan biasanya ngeliat penjualan kita itu dari berapa banyak jumlah ayam yang ke pakai, nah duit penjualan yang tidak masuk laporan kan lumayan bisa masuk kantong. Yang penting kalian bisa main cantik lah,hehehe.  Para pegawai yang lain juga begitu kok, makanya pada betah kerja sama juragan.  Kalian mending praktekin tuh trik yang udah aku ceritain” jelas Jono.  “Oooh, begitu.” Amar dan Dodo manggut-manggut paham. “Pantesan pada betah banget” kata Amar dalam hati.  “Udah jam dua belas, tidur ahh” Jono mulai menguap.  Akhirnya merekapun tidur.
Keesokan harinya warung cukup ramai, meski tidak seramai kemarin.  Amar dan Dodo masih kepikiran trik yang Jono ceritain tadi malam.  “Mar, gimana nih, mau ngikutin triknya Jono nggak?” tanya Dodo. “Janganlah Do, aku takut dosa juga. Nggak enak sama juragan,” jawab Amar.  “Mar, aku punya ide” Dodo sepertinya mendapat ilham. “Bagaimana, kalo trik  itu kita praktekin buat minuman saja?, kan minuman juga tidak semahal satu mangkuk soto, meskipun dosa, dosanya pun kecil”. Dodo menjelaskan. “Wah, si Dodo mulai keracunan akal bulusnya si Jono nih.  Tapi kalo dipikir-pikir ada benarnya juga si” kata Amar dalam hati.  “Ya udah deh, tapi jangan banyak-banyak yah”. Amar menyetujui ide nakal Dodo.
Kali ini Amar pulang ke rumah. Dan tidak seperti hari biasanya Amar kali ini mempunyai duit empat puluh ribu, hasil dari trik yang di ajarkan Jono membuahkan hasil, tapi Amar merasa bersalah.  Merasa duit lima belas ribu itu bukanlah haknya.  “Duh, gimana yah. Kok perasaanku nggak enak gini, jangan-jangan ini adalah awal dari perbuatan para koruptor.  Tadinya korupsi masalah hal sepele, kemudian pengen lagi dan lagi.  Waduh jangan-jangan nanti aku bakal jadi koruptor, ini mah meskipun kecil tetep saja dosa.  Apa duit ini aku buang saja yah.  Tapi sayang.” Amar mulai beradu argumen dengan pikiran-pikirannya sendiri. (Bersambung)

Komentar