Pukul
sepuluh warung soto telah siap untuk dibuka. Semua meja telah dilap, lantai
telah dipel. Ayam telah digoreng dan
ditiriskan. Semua bahan telah siap dan lengkap. Dan tirai siap untuk
dibuka.
Baru
beberapa menit dibuka pelanggan mulai berdatangan. Bangku telah terisi. Dan mangkok meja telah
siap untuk beradu dengan sendok dan garpu.
Menjelang jam sebelas warung telah dipenuhi pelanggan, semua bangku
telah terisi. Dari anak-anak remaja, para Bapak-bapak dan perkumpulan Ibu-ibu
yang sepertinya para
guru yang rapat di akhir pekan. Biasanya tidak seramai ini. “Wajar saja ini adalah hari minggu” gumam Amar. Amar dan Dodo kewalahan untuk melayani para pelanggan. Tapi dengan berbagi tugas. Amar menyiapkan minuman. Dodo menyiapkan racikan sotonya. Akhirnya semua pelanggan telah menerima apa yang diinginkannya, dan mereka berdua bisa mengambil nafas lega.
guru yang rapat di akhir pekan. Biasanya tidak seramai ini. “Wajar saja ini adalah hari minggu” gumam Amar. Amar dan Dodo kewalahan untuk melayani para pelanggan. Tapi dengan berbagi tugas. Amar menyiapkan minuman. Dodo menyiapkan racikan sotonya. Akhirnya semua pelanggan telah menerima apa yang diinginkannya, dan mereka berdua bisa mengambil nafas lega.
Amar
memperhatikan sepasang kekasih yang sedang menikmati soto. Dan sang cewe menengok ke Amar. Dan
memanggilnya dengan suara
yang pelan. “Mas, mas. Sini!” sambil menggerak-gerakan tangannya sebagai isyarat. Amar gugup. “Iya, ada apa mbak?” tanyanya sopan. “Kurang manis” komplen si cewe tersebut sambil tersenyum manis. “Itu ada kecap” jawab Amar. “Es jeruknya mas”. “Oh iya maaf mbak”. Amar hanya menyeringai. “saya tambahin gula ya” Amar mengambil minuman tersebut dan dibawa ke dapur. “Astagfirullah” ucap Amar lirih dan sambil menggelengkan kepala merasa konyol.
yang pelan. “Mas, mas. Sini!” sambil menggerak-gerakan tangannya sebagai isyarat. Amar gugup. “Iya, ada apa mbak?” tanyanya sopan. “Kurang manis” komplen si cewe tersebut sambil tersenyum manis. “Itu ada kecap” jawab Amar. “Es jeruknya mas”. “Oh iya maaf mbak”. Amar hanya menyeringai. “saya tambahin gula ya” Amar mengambil minuman tersebut dan dibawa ke dapur. “Astagfirullah” ucap Amar lirih dan sambil menggelengkan kepala merasa konyol.
Hari
minggu yang melelahkan karena sibuk melayani pelanggan terasa cukup cepat untuk
dilalui Amar. Jam menunjukan pukul
sepuluh malam. Artinya warung sudah saatnya tutup. Dan juragan soto pun sudah datang dan
memerintahkan Amar dan Dodo untuk menutup warung. Semua pegawai soto di berbagai cabang akan
melaporkan dan kumpul di warung soto yang dijaga Amar dan Dodo, karena itulah
warung terdekat dengan rumah juragan.
Tempat yang cukup strategis.
Biasanya para pegawai tidak laporan di warung, langsung kerumah
juragan. Tapi ini peraturan baru mulai
hari minggu ini laporan akan diadakan di warung cabang Mandiraja.
Setelah
semua acara laporan telah beres dan upah telah diterima masing-masing
pegawai. Amar memutuskan untuk menginap
di warung, karena merasa terlalu lelah dan sudah hampir pukul sebelas
malam. Dodo sebagai sahabat Amar pun
tidak tega untuk membiarkan Amar menginap sendirian di warung. Dan Jono si pegawai yang bertugas menjaga
warung di cabang Klampok pun memutuskan untuk ikut menginap di warung yang
dijaga Amar dan Dodo.
Mereka
bertiga tidak membutuhkan waktu lama untuk saling akrab. Dimulai dari perkenalan diri. Cerita tentang asal-usul mengapa bisa sampai
kerja di warung soto. Dan sampai
penjualan hari ini mereka pun bahas. “Eh, gimana penjualan kalian hari ini?”
tanya Jono. “Alhamdulillah ramai banget
tadi Jon.” Sahut Dodo. “Iya bikin
pegel-pegel nih” imbuh Amar. “Sampai-sampai aku bikin kopi pake air dingin”.
Dodo dan Jono kaget. “Haaa???” mereka kompak. “Kok kamu tadi tidak cerita ke
aku Mar?” tambah Dodo. “Kan tahu sendiri tadi sibuknya seperti apa”, jawab
Amar. “Heee,, bener juga sih”, Dodo merenges. “Gimana ceritanya kok kamu bisa
bikin kopi pakai air dingin, komplen dong yang pesen?” Jono heran mulai
mendekat tambah penasaran. “Iya komplen
lah, tapi komplennya pas udah kering tuh gelas, jadi nggak aku ganti yang baru,
lagian mereka sepertinya terburu-buru jadi langsung cabut gitu aja deh” jelas
Amar. “Terus-terus?”. Kemudian Amar menceritakan kejadian konyol tadi siang,
begitu juga kejadian cewe yang komplen minuman es jeruknya kurang manis.
Jono
bekerja di warung soto sudah dua tahun.
Cukup untuk bisa disebut “senior”.
“Eh, kamu kok betah banget kerja di sini, Jon? Kan gajinya cuma dua
puluh lima ribu, emang cukup?” Dodo mengintergogasi. “Haha, kalian mau aku
kasih tau triknya biar betah dan duitnya cukup?” goda Jono. “Maksudnya?” tanya
Amar heran. “Aku mah kalo gaji dua puluh lima ribu perhari nggak cukup, apalagi
aku perokok, sedangkan sama juragan tidak ada jatah rokok, jadi gini nih trik
aku biar dapet duit sampingan. Kalau warung
sedang ramai, misalnya saja ada rombongan pesan tujuh belas mangkok soto kalian
tulis empat belas atau lima belas mangkok saja, asalkan pakai daging ayamnya
jangan banyak-banyak, soalnya juragan biasanya ngeliat penjualan kita itu dari
berapa banyak jumlah ayam yang ke pakai, nah duit penjualan yang tidak masuk
laporan kan lumayan bisa masuk kantong. Yang penting kalian bisa main cantik
lah,hehehe. Para pegawai yang lain juga
begitu kok, makanya pada betah kerja sama juragan. Kalian mending praktekin tuh trik yang udah
aku ceritain” jelas Jono. “Oooh,
begitu.” Amar dan Dodo manggut-manggut paham. “Pantesan pada betah banget” kata
Amar dalam hati. “Udah jam dua belas,
tidur ahh” Jono mulai menguap. Akhirnya
merekapun tidur.
Keesokan
harinya warung cukup ramai, meski tidak seramai kemarin. Amar dan Dodo masih kepikiran trik yang Jono
ceritain tadi malam. “Mar, gimana nih,
mau ngikutin triknya Jono nggak?” tanya Dodo. “Janganlah Do, aku takut dosa
juga. Nggak enak sama juragan,” jawab Amar.
“Mar, aku punya ide” Dodo sepertinya mendapat ilham. “Bagaimana, kalo
trik itu kita praktekin buat minuman
saja?, kan minuman juga tidak semahal satu mangkuk soto, meskipun dosa, dosanya
pun kecil”. Dodo menjelaskan. “Wah, si Dodo mulai keracunan akal bulusnya si
Jono nih. Tapi kalo dipikir-pikir ada
benarnya juga si” kata Amar dalam hati.
“Ya udah deh, tapi jangan banyak-banyak yah”. Amar menyetujui ide nakal
Dodo.
Kali
ini Amar pulang ke rumah. Dan tidak seperti hari biasanya Amar kali ini
mempunyai duit empat puluh ribu, hasil dari trik yang di ajarkan Jono
membuahkan hasil, tapi Amar merasa bersalah.
Merasa duit lima belas ribu itu bukanlah haknya. “Duh, gimana yah. Kok perasaanku nggak enak
gini, jangan-jangan ini adalah awal dari perbuatan para koruptor. Tadinya korupsi masalah hal sepele, kemudian
pengen lagi dan lagi. Waduh
jangan-jangan nanti aku bakal jadi koruptor, ini mah meskipun kecil tetep saja
dosa. Apa duit ini aku buang saja
yah. Tapi sayang.” Amar mulai beradu
argumen dengan pikiran-pikirannya sendiri. (Bersambung)
Komentar
Posting Komentar