Langsung ke konten utama

Keajaiban itu Nyata, Katanya! Chapter I


Satu keping uang logam jatuh dari atas meja, “Cling!!!”. Uang logam lima ratus rupiah bergambar bunga melati itu menggelinding, dan berputar-putar di bawah kolong meja. Dan “Klik”, akhirnya jari telunjuk dan jempol menghentikan tarian holihop uang receh itu. Receh yang loncat dari tangan Amar. Seolah-olah tidak mau untuk dikumpulkan dengan kepingan lainnya.  Uang dua puluh ribu rupiah berwarna hijau yang digenggam ditangan kanan Amar dan uang recehan sebanyak sembilan keping lima ratusan ditangan kiri, jumlah yang ganjil karena
beberapa detik yang lalu sempat kabur satu keping, sekarang genap sudah menjadi sepuluh keping, itulah upah Amar kerja selama lima belas jam di warung soto. Iya, cuma sebesar dua puluh lima ribu rupiah upah dalam sehari.  Kerja dari jam tujuh pagi sampai jam
sepuluh malam.

Banner “Soto Bancar” dengan background warna hijau terpasang dengan jelas di pinggir terminal Mandiraja.  Di sana lah batu loncatan pertama seorang Amar mulai mencari rezeki Allah dengan cara bekerja kepada pemilik juragan soto.  Warung soto yang telah memiliki beberapa cabang di Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Purbalingga itu cukup terkenal.  Masalah harga memang cukup mahal untuk di desa yang notabene penghasilannya pas-pasan.  Tapi itu sebanding lurus dengan rasa dan kualitas yang ditawarkan. Seandainya upah Amar sehari kerja dipakai untuk membeli dua bungkus soto hanya sisa seribu rupiah.
Amar adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.  Semua saudaranya telah menikah dan mempunyai keluarga sendiri.  Amar hanya tinggal bersama Ayahnya.  Ayahnya cuma buruh tani yang penghasilannya tidak menentu.  Kadang ada pekerjaan, kadang tidak.  Ibunya harus
merantau ke Jakarta, dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga.  Itulah yang dilakukan Ibunya agar Amar tetap bisa bersekolah.  Dan tahun ini adalah tahun kelulusan Amar dari SMK.
Sebulan sebelum Amar bekerja di warung soto ia telah mengikuti serangkain seleksi recruitment di perusahaan yang cukup ternama di Karawang.  Perusahaan yang bergerak dalam bidang otomotif dan memproduksi “aki”. Produknya mungkin sudah dikenal hampir diseluruh Indonesia, yaitu GS Astra.  Tapi setelah sebulan ini belum ada kabar yang mampu membuat Amar tersenyum lega.  Apakah Amar gagal??.  Daripada memikirkan pekerjaan yang belum tentu Amar dapatkan akhirnya Ia putuskan untuk bekerja di warung soto kampungnya sendiri.
Warung soto tempat Amar bekerja cukup jauh.  Ia harus berangkat jam enam pagi, sekitar tiga puluh menit ia harus mengayuh sepeda BMX-nya dari rumah hingga warung soto.  Setelah menyandarkan sepeda di tembok samping warung dia harus bergegas untuk menyiapkan segala keperluan warungnya.
“Assalamu’alaikum, Do!” sapa Amar kepada Dodo yang sedang duduk melamun duduk di depan warung.  “Eh Amar, Wa’alaikumussalam” jawabnya kaget sembari memberikan kunci warung kepada Amar.  Meraka berdua sudah dipercaya menjaga warung meski baru empat hari mereka bekerja.  Setalah warung di buka mereka berdua bagi tugas. “Do, aku yang ngepel yah!” seru Amar.  Dodo secara otomatis ke dapur untuk mengambil panci besar dan air untuk dipanaskan.
Setelah dua jam serangkaian upacara persiapan warung soto hampir jadi, ada mobil berhenti di depan warung.  Ternyata ada dua Bapak-bapak yang hendak memesan soto, satu berbadan kurus, dan yang satunya berbadan cukup gemuk.  “Maaf pak, sotonya belum jadi” jawab Dodo. “Oh, kalau pesan kopi bisa?” tanya bapak berbadan kurus itu. “Oh, iya bisa pak!”.  Kemudian dua bapak-bapak tersebut masuk dan Dodo telah menyeduhkan kopi pesanan pelanggan.
Lima menit kemudian ada seorang Bapak-bapak masuk ke warung dan duduk bersama dua Bapak-bapak yang barusan memesan kopi.  “Mas, pesen kopi cappuccino Good Day satu ya!”. Sekarang giliran Amar yang harus menyeduhkan kopi karena Dodo sedang di belakang.  Dan kurang beruntungnya, Amar harus pergi kewarung sebelah untuk membeli satu sachet kopi pesanan pelanggan, karena warung sotonya cuma ada stok kopi hitam.  Setelah kembali membawa satu sachet kopi, kemudian dituangkan ke cangkir, lampu indikator dispenser telah berwarna hijau, yang berarti air telah panas dan siap digunakan untuk menyeduh kopi.
“Ini pak, kopinya!” Amar mengambil kopi dari nampan dan menaruh kopi ke meja.  Dengan nikmatnya Bapak-bapak tersebut mengobrol dan menikmati secangkir kopi di pagi hari.  “Ngopi kok kayaknya nikmat bangetnya” kata Amar dalam hati.  Amar jarang minum kopi, karena ia akan merasa mual setelah minum kopi.  Mungkin karena penyakit maghnya.  Wajar saja jika ia terheran-heran.
“Mas, mas!” panggil pemesan kopi Capuccino. “Iya, kenapa pak?” jawab Amar.  “Ini kok, kopinya nggak panas yah?”. “Masa sih pak, tadi panas kok” Amar meyakinkan.  Setelah ketiga Bapak-bapak itu membayar kopi lalu pergi. Kemudian Amar berpikir heran, “Apa tadi aku pake kran dispenser yang warna biru yah? Tapi kok bilangnya pas sudah habis sih pak?”. Amar hanya garuk-garuk kepala, dan sesekali tersenyum akan dirinya sendiri. (Bersambung)

Komentar