Satu
keping uang logam jatuh dari atas meja, “Cling!!!”. Uang logam lima ratus
rupiah bergambar bunga melati itu menggelinding, dan berputar-putar di bawah
kolong meja. Dan “Klik”, akhirnya jari telunjuk dan jempol menghentikan tarian
holihop uang receh itu. Receh yang loncat dari tangan Amar. Seolah-olah tidak
mau untuk dikumpulkan dengan kepingan lainnya.
Uang dua puluh ribu rupiah berwarna hijau yang digenggam ditangan kanan
Amar dan uang recehan sebanyak sembilan keping lima ratusan ditangan kiri,
jumlah yang ganjil karena
beberapa detik yang lalu sempat kabur satu keping, sekarang genap sudah menjadi sepuluh keping, itulah upah Amar kerja selama lima belas jam di warung soto. Iya, cuma sebesar dua puluh lima ribu rupiah upah dalam sehari. Kerja dari jam tujuh pagi sampai jam
sepuluh malam.
beberapa detik yang lalu sempat kabur satu keping, sekarang genap sudah menjadi sepuluh keping, itulah upah Amar kerja selama lima belas jam di warung soto. Iya, cuma sebesar dua puluh lima ribu rupiah upah dalam sehari. Kerja dari jam tujuh pagi sampai jam
sepuluh malam.
Banner
“Soto Bancar” dengan background warna hijau terpasang dengan jelas di
pinggir terminal Mandiraja. Di sana lah
batu loncatan pertama seorang Amar mulai mencari rezeki Allah dengan cara
bekerja kepada pemilik juragan soto.
Warung soto yang telah memiliki beberapa cabang di Kabupaten
Banjarnegara, dan Kabupaten Purbalingga itu cukup terkenal. Masalah harga memang cukup mahal untuk di
desa yang notabene penghasilannya pas-pasan.
Tapi itu sebanding lurus dengan rasa dan kualitas yang ditawarkan. Seandainya
upah Amar sehari kerja dipakai untuk membeli dua bungkus soto hanya sisa seribu
rupiah.
Amar
adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.
Semua saudaranya telah menikah dan mempunyai keluarga sendiri. Amar hanya tinggal bersama Ayahnya. Ayahnya cuma buruh tani yang penghasilannya
tidak menentu. Kadang ada pekerjaan,
kadang tidak. Ibunya harus
merantau ke Jakarta, dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Itulah yang dilakukan Ibunya agar Amar tetap bisa bersekolah. Dan tahun ini adalah tahun kelulusan Amar dari SMK.
merantau ke Jakarta, dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Itulah yang dilakukan Ibunya agar Amar tetap bisa bersekolah. Dan tahun ini adalah tahun kelulusan Amar dari SMK.
Sebulan
sebelum Amar bekerja di warung soto ia telah mengikuti serangkain seleksi recruitment
di perusahaan yang cukup ternama di Karawang. Perusahaan yang bergerak dalam bidang
otomotif dan memproduksi “aki”. Produknya mungkin sudah dikenal hampir
diseluruh Indonesia, yaitu GS Astra.
Tapi setelah sebulan ini belum ada kabar yang mampu membuat Amar
tersenyum lega. Apakah Amar
gagal??. Daripada memikirkan pekerjaan
yang belum tentu Amar dapatkan akhirnya Ia putuskan untuk bekerja di warung
soto kampungnya sendiri.
Warung
soto tempat Amar bekerja cukup jauh. Ia
harus berangkat jam enam pagi, sekitar tiga puluh menit ia harus mengayuh
sepeda BMX-nya dari rumah hingga warung soto.
Setelah menyandarkan sepeda di tembok samping warung dia harus bergegas
untuk menyiapkan segala keperluan warungnya.
“Assalamu’alaikum,
Do!” sapa Amar kepada Dodo yang sedang duduk melamun duduk di depan
warung. “Eh Amar, Wa’alaikumussalam”
jawabnya kaget sembari memberikan kunci warung kepada Amar. Meraka berdua sudah dipercaya menjaga warung
meski baru empat hari mereka bekerja.
Setalah warung di buka mereka berdua bagi tugas. “Do, aku yang ngepel
yah!” seru Amar. Dodo secara otomatis ke
dapur untuk mengambil panci besar dan air untuk dipanaskan.
Setelah
dua jam serangkaian upacara persiapan warung soto hampir jadi, ada mobil
berhenti di depan warung. Ternyata ada
dua Bapak-bapak yang hendak memesan soto, satu berbadan kurus, dan yang satunya
berbadan cukup gemuk. “Maaf pak, sotonya
belum jadi” jawab Dodo. “Oh, kalau pesan kopi bisa?” tanya bapak berbadan kurus
itu. “Oh, iya bisa pak!”. Kemudian dua
bapak-bapak tersebut masuk dan Dodo telah menyeduhkan kopi pesanan pelanggan.
Lima
menit kemudian ada seorang Bapak-bapak masuk ke warung dan duduk bersama dua
Bapak-bapak yang barusan memesan kopi.
“Mas, pesen kopi cappuccino Good Day satu ya!”. Sekarang giliran
Amar yang harus menyeduhkan kopi karena Dodo sedang di belakang. Dan kurang beruntungnya, Amar harus pergi
kewarung sebelah untuk membeli satu sachet kopi pesanan pelanggan, karena
warung sotonya cuma ada stok kopi hitam.
Setelah kembali membawa satu sachet kopi, kemudian dituangkan ke
cangkir, lampu indikator dispenser telah berwarna hijau, yang berarti air telah
panas dan siap digunakan untuk menyeduh kopi.
“Ini
pak, kopinya!” Amar mengambil kopi dari nampan dan menaruh kopi ke meja. Dengan nikmatnya Bapak-bapak tersebut mengobrol
dan menikmati secangkir kopi di pagi hari.
“Ngopi kok kayaknya nikmat bangetnya” kata Amar dalam hati. Amar jarang minum kopi, karena ia akan merasa
mual setelah minum kopi. Mungkin karena
penyakit maghnya. Wajar saja jika ia
terheran-heran.
“Mas,
mas!” panggil pemesan kopi Capuccino. “Iya, kenapa pak?” jawab
Amar. “Ini kok, kopinya nggak panas
yah?”. “Masa sih pak, tadi panas kok” Amar meyakinkan. Setelah ketiga Bapak-bapak itu membayar kopi
lalu pergi. Kemudian Amar berpikir heran, “Apa tadi aku pake kran dispenser
yang warna biru yah? Tapi kok bilangnya pas sudah habis sih pak?”. Amar hanya
garuk-garuk kepala, dan sesekali tersenyum akan dirinya sendiri. (Bersambung)
Komentar
Posting Komentar